Bila Darah Janin Berbeda Dengan Ibu

Standard

dikutip dari http://www.bergaul.com/pages/blog/showblog.php?blogid=2744

Berbeda golongan darah bisa membuat bayi kuning. Pada kasus tertentu malah mengancam jiwa si kecil.

Dua kali berturut-turut kehilangan bayi tentu sangatlah menyedihkan. Tapi begitulah yang dialami Ny. Elly. Penyebabnya adalah bayi yang dilahirkan selalu berwarna kuning. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan adanya perbedaan rhesus (Rh) darah antara ia dengan janinnya.

Pada kenyataannya, perbedaan golongan maupun rhesus darah memang potensial menyebabkan ikterus (kuning) pada bayi yang baru lahir. Warna kuning tersebut merupakan tanda terjadinya gangguan metabolisma bilirubin. “Warna kuningnya tampak berat. Jika diperiksa darahnya, kadar bilirubinnya sangat tinggi. Mungkin terjadi suatu kontak dengan darah bayi sehingga bilirubinnya pecah,” papar dr.J.M. Seno Adjie, Sp.OG dari RSUPN Cipto Mangunkusumo.

Jika bayi dengan kadar bilirubin tinggi tidak ditangani dengan baik, ia bisa meracuni otak bayi. Bahkan, bayi bisa meninggal, seperti yang dialami Ny. Ibu Elly tadi.

PENYEBAB

Itulah sebabnya mengetahui perbedaan darah antara ibu hamil dengan janin, menjadi bagian terpenting dalam pemecahan kasus seperti disebut di atas. Tapi syukurlah, dengan kemajuan teknologi hal-hal tersebut bisa diatasi sejak dini.

Perbedaan darah antara ibu dengan janin paling banyak terjadi jika ibu memiliki rhesus negatif, sedangkan janinnya mewarisi rhesus positif dari sang ayah. “Meskipun darah ibu dan janin tidak bercampur dan mempunyai sirkulasi masing-masing, biasanya dalam keadaan seperti itu kadang darah bayi karena suatu proses tertentu melakukan interaksi,” jelas Seno.

Bila jenis darah janin tidak sesuai, maka ibu akan menghasilkan antibodi melawan sel-sel darah merah si janin. Selama masa kehamilan pertama, penderita dengan faktor darah rhesus negatif menjadi peka karena mudah mengenai faktor rhesus positif darah janin yang diwarisi dari ayahnya.

Kasus ini biasanya tidak terlalu berat pada anak pertama. Ini dikarenakan zat anti yang terbentuk belum begitu banyak dan interaksi dengan si janin juga belum begitu lama. Begitu bayi pertama lahir, maka interaksi tersebut akan banyak terjadi pada bayi berikutnya. Jadi, pada masa kehamilan kedua dan seterusnya, yang menghasilkan janin rhesus positif, jumlah antibodi si ibu yang anti-rhesus positif akan meningkat. Selanjutkan, akan menembus batas plasenta dan melekat pada sel-sel rhesus positif dari darah janin dan merusaknya.

Untuk mengganti kerusakan tersebut, lanjut Seno, “Janin meningkatkan produksi sel-sel darah merah baru yang kendati pada akhirnya akan diserang juga.” Peningkatan perusakan sel-sel darah merah tersebut melepaskan sejumlah besar bilirubin yang tidak dapat diproses dan dikeluarkan oleh hati janin.

Keadaan semacam ini tidak selalu muncul begitu bayi dilahirkan. Bisa saja terjadi 30 menit sampai 24 jam setelah kelahiran. Bahkan bisa lebih lama dari itu. Tak heran kalau tiga hari pertama setelah kelahiran, bayi harus dipantau terus keadaannya.

Bayi yang terserang secara ringan, jelas Seno, biasanya pucat dan mempunyai hati dan limpa yang membengkak. Sedangkan yang mengalami gangguan dalam tingkat parah biasanya mempunyai kulit berbercak kecil kemerahan, membengkak, dan pucat. Hati dan limpa pun membengkak. Kemudian sistem saraf tidak responsif, jantung berdenyut kecil.

Dengan demikian, gangguan yang terjadi akibat ketidakselarasan darah itu lebih banyak diderita anak ketimbang ibunya. “Biasanya bayi menjadi kuning, kadar hemoglobin rendah, atau kadar bilirubin tinggi. Untuk yang berat, kadar bilirubinnya bisa sangat kuning,” terang Seno lebih lanjut.

BERBAGAI TERAPI

Bayi yang dilahirkan kuning karena ketidakselarasan darah tadi harus menjalani terapi sinar. Ini bisa efektif jika kadar kuningnya masih tergolong ringan. Umumnya bayi bisa membaik. Namun, kalau keadaannya sudah dalam taraf sedang dan berat, tidak cukup dengan terapi sinar. Dokter akan melakukan terapi lain yaitu blood exchange (penggantian darah) bayi. Umumnya diganti dengan golongan darah O, rhesus negatif agar bayi mempunyai darah yang diharapkan sama dengan ibunya.

“Ganti darah ini dilakukan jika sudah sangat kuning dan tidak cukup dengan terapi sinar,” jelas Seno. Hal ini dilakukan karena sudah terlalu banyak darah bayi yang dihancurkan oleh zat anti dari si ibu. Misalnya, bayi tampak pucat, darah merahnya sedikit, kadar bilirubin tinggi (di atas 20), dan banyak yang pecah. Transfusi ini bisa dilakukan pada hari pertama sampai 40 hari sesudah kelahiran.

Bahkan transfusi darah ini bisa dilakukan sejak janin dalam kandungan. Caranya melalui intrauterine (intraperitoneal) saat analisis cairan amnion menunjukkan janin telah terkena gangguan parah. Jadi, ada semacam alat yang dimasukkan melalui perut ibu untuk mencapai rongga peritoneal janin. Infus ini dapat diulang setiap 2 minggu sampai janin cukup matang untuk dilahirkan.

Jika kasus beda darah ini terdeteksi sejak awal, kelahiran bisa direncanakan antara 2 sampai 4 minggu sebelum tanggal kelahiran seharusnya. Selama saat kelahiran, janin harus terus dimonitor secara elektris. Bila terjadi indikasi gangguan pada janin, dokter akan segera melakukan persalinan bedah caesar.

Derajat paling berat yang ditemui adalah kematian. Bahkan kadang bayi sudah meninggal dalam kandungan. Ini terjadi karena proses ketidakcocokan darahnya cukup hebat.

TANPA KELUHAN

Kehamilan dengan ketidakselarasan darah ini umumnya berlangsung tanpa keluhan. Si ibu akan anteng-anteng saja menjalani kehamilannya. Lantaran itu, hal terbaik yang harus dilakukan adalah pemeriksaan darah sebelum kehamilan terjadi. Baik dari pihak ibu maupun ayah.

Ini tak berarti ibu yang memiliki rhesus negatif dilarang hamil. Pemeriksaan tersebut lebih dimaksudkan untuk meminimalkan risiko yang harus ditanggung si bayi jika terjadi ketidakselarasan darah. Misalnya dengan pemberian obat-obatan tertentu. Dokter akan memberikan obat anti dari antirhesus. Manfaat obat tersebut agar zat anti yang dimiliki ibu tidak terlalu menyerang bayi. Obat ini disuntikkan pada ibu, kira-kira menjelang melahirkan atau saat akan melahirkan dan beberapa saat setelah melahirkan.

Yang ideal pemeriksaan darah dilakukan sebelum atau selama kehamilan. “Umumnya dilakukan pada kehamilan tiga bulan karena biasanya para ibu baru kontrol setelah usia kehamilan lewat dari 1-2 bulan,” ujar Seno. Saat kehamilan biasanya ada pemeriksaan darah rutin, misalnya HB, hemoglobin, trombosit, termasuk golongan darah dan rhesus.

Riesnawiati/Dedeh.Ilustrasi:Pugoeh(nakita)

Penggolongan Darah

Setiap orang mempunyai golongan darah dengan rhesus tertentu. Penggolongan darah ini diturunkan secara genetika. Artinya, orang yang memiliki rhesus negatif diturunkan dari orangtua yang memiliki rhesus negatif atau juga membawa faktor rhesus negatif. “Orang yang membawa faktor rhesus negatif jika menikah dengan orang yang juga membawa faktor rhesus negatif akan memiliki anak yang berfaktor rhesus negatif,” jelas Seno.

Ada beberapa macam penggolongan darah. Yang paling terkenal dan paling besar penggolongan darah ABO dan rhesus. Penggolongan tersebut dilakukan berdasarkan zat-zat yang ada dalam darah masing-masing individu.

Setiap jenis darah (A, B, AB, dan O) memiliki antigen khusus dalam sel-sel darah merah dan antibodi khusus dalam darah. Orang dengan golongan darah A berarti mempunyai antigen A. Golongan darah B memiliki antigen B. Jika orang bergolongan darah AB berarti mempunyai antigen A dan B. Sedangkan yang bergolongan darah O (nol) tidak mempunyai antigen.

Ketidakcocokan golongan darah ABO sering terjadi pada ibu yang mempunyai golongan darah O. Misalnya, golongan darah ibu O (nol) dan pasangannya mempunyai golongan darah B. Jika anaknya mempunyai golongan darah B, maka ibu itu akan membentuk zat anti B.

Golongan darah O bisa ditransfusikan pada golongan darah lainnya, asalkan mempunyai rhesus yang sama. Tak heran kalau ada kasus seperti gangguan pembekuan darah saat transfusi dilakukan dengan golongan darah yang sama. Artinya golongan darah yang sama tidak selalu memiliki rhesus sama.

Pada umumnya manusia memiliki rhesus positif. Hanya sebagian kecil saja yang mempunyai rhesus negatif. “Sebagian besar orang Asia, termasuk Indonesia mempunyai rhesus positif. Hanya kurang dari satu persen orang Indonesia yang mempunyai rhesus negatif,” jelas Seno. Di daerah Eropa, rhesus negatif bisa mencapai 10-30 persen.

Dedeh

Ketidak Selarasan ABO

Jenis Darah

Antigen

Antibodi

Ketidakselarasan

A

A

Anti B

Ibu A

Bayi A atau AB

B

B

Anti A

Ibu B

Bayi A atau B

AB

A&B

Tidak ada antibodi

Ibu AB

O

Tidak ada antigen

Anti A&B

Ibu O

Bayi A atau B

5 responses »

  1. di jakarta ataupun di bali,di rumah sakit mana saya bisa menerima terapi anti rhesus karena saya rh negatif dan suami rh positif

    • kalau yang saya tau untuk masalah rhesus negatif itu bisa ditangani oleh dokter kandungan atau bisa cek ke dokter ahli darah (tepatnya saya kurang tau nama keren kedokterannya) mungkin bisa konsultasikan terlebih dahulu ke dokter kandungan apabila berencana ingin hamil, karena bila rhesus kedua orang tua berbeda yang saya tau bisa menyebabkan janin meninggal saat sudah dilahirkan.

      lebih baik konsultasi dengan ahlinya (dokter) saya cm kasih opini aja🙂

  2. ibu saya gol darah B,ayah saya O,tapi saya A,hal ini membuat saya down shock dan bertanya2 anak siapa saya? tapi ciri fisik dominan ayah,tapi darah saya berbeda dg 3 kakak lelaki, yg pertama dan ketiga O,kedua B,kata mama saya lahir kuning pucat dan mama mengalami pendarahan yg hebat,dr kecil saya sering sakit2an sampai sekarang saya berumur 29th juga masih sakit2an,apakah mungkin terjadi mutasi gen sehingga golongan darah saya bisa berbeda sendiri,catatan saya lahir di rumah jadi tidak mungkin saya tertukar seoerti kemungkinan bayi lahir di RS.terima kasih,mohon jawabannya karena hal ini sering membuat saya depresi

  3. saya sekarng lg hamil,,golongan darah suami saya A dan saya sendiri O,apakah ada kemungkinan bayi yang saya lahirkan terkena penyakit kuning soalnya kasus teman saya jg bgtu hingga bayinya meninggal.

    • saya sekarang lagi hamil 3 bulan,sya mempunyai golongan darah O dan suami sya A,di waktu kelahiran anak pertama saya,anak sya mengalami bilirubin yg lumayan tinggi…
      namun bisa di atasi degan penyinaran ultra violet,apa di anak ke 2 saya ini akan mengalamin hal yg sama??
      klo memeng iya gmna cara mengatasi nya agar di anak ke 2 saya ini tidak terulang lagi…
      mohon jawaban nya, krna saya tkut hal yg sama terulang lagi degan anak ke 2 saya…
      terimaksi…
      riza di riau…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s